Pages

About Me

Foto saya
Mantan mahasiswi di Politeknik Negeri Sriwijaya jurusan Teknik Komputer (lebih tepatnya gue sekarang udah alumni :p) sekarang kerja di lingkungan peradilan mengabdikan diri kepada negara, kita dibagian sekertariat ngerangkap rangkap . Seorang yang gila baca (komik terutama), ter-obsesi dengan jeJepangan dan astronomi.
Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 11 Maret 2011

ORPHEUS part 1

Orpheus, raja Thrace, adalah putra Apollo, dewa terang, dengan Calliope, dewi musik dan puisi epik. Di zamannya tak ada orang yang dicintai oleh semua makhluk lebih daripada Orpheus. Sebab selain tampan dan berbudi luhur, Orpheus merupakan pemusik yang handal. Apabila jari-jarinya yang terampil telah diayunkan pada dawai-dawai liranya dan suaranya yang merdu bersenandung, tak satupun yang tidak terpesona dibuatnya. Bahkan hewan-hewan buas akan berbaring berdampingan dengan mangsanya dan pepohonan seolah tercabut dari akarnya untuk mendengarkan permainan lira dan suara Orpheus yang memikat.
Suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan dalam hutan, Orpheus berjumpa dengan Eurydice, seorang peri hutan yang jelita. Mereka berdua saling terpesona dan jatuh cinta. Hati Orpheus tertawan oleh sinar mata Eurydice yang lembut dan gerai rambut hitamnya yang lincah berayun, sedangkan Eurydice terpesona oleh sosok Orpheus yang gagah.
Mereka kemudian mengikrarkan diri untuk menjadi pasangan yang abadi. Sungguh pasangan yang serasi. Sebab selain kejelitaan Eurydice sebanding dengan ketampanan Orpheus, hanya Eurydicelah yang mampu menari dengan indahnya diiringi permainan musik Orpheus. Berdua mereka hidup dalam kebahagiaan yang berakar pada cinta sejati yang telah dianugerahkan dan mereka pelihara bersama.
Sayang sekali kebahagiaan mereka tidaklah sekekal cinta mereka. Para Parcae, dewi-dewi takdir, yang keras hati telah memutuskan riwayat Eurydice harus berakhir sampai di sini saja.
Pada suatu hari, sebagaimana layaknya pasangan-pasangan yang saling mencintai lainnya, mereka melewatkan waktu berdua saja, berjalan-jalan menikmati keindahan pemandangan alam di Lembah Tempe. Bunga-bunga liar semarak bermekaran mengundang kupu-kupu beraneka warna untuk singgah mencicipi madu mereka. Dari jauh tampak puncak Olympus yang berselimut salju berdampingan dengan puncak Gunung Osa, sementara di antara keduanya mengalir dengan tenang air Sungai Peneus yang berkilau ditimpa sinar sang surya.

Menyaksikan pemandangan yang indah tak terperi tersebut, Orpheus segera memetik dawai-dawai liranya dan bernyanyi memuji keindahan alam diiringi celoteh riang burung-burung yang berloncatan di antara dahan-dahan pepohonan sycamore yang tumbuh di sana, sementara Eurydice menari dengan gemulainya.
Tiba-tiba dari balik semak-semak muncul seekor ular yang menancapkan taring-taringnya yang berbisa pada pergelangan kaki Eurydice. Eurydice menjerit pelan sebelum kemudian roboh dalam pelukan Orpheus yang segera menyongsongnya menyaksikan kejadian tersebut. Tapi terlambat! Eurydice telah menghembuskan nafasnya yang terakhir, bahkan sebelum Orpheus sempat menanyakan keadaannya. Sementara ular berbisa tersebut telah lenyap entah ke mana seolah tak peduli betapa kebahagiaan sepasang anak manusia telah dihancurkannya lalu Eurydice masuk ke dunia kematian, the Underworld ato dikenal juga dengan nama Hades

Orpheus lalu karena cintanya pada Eurydice sangat besar, dia lalu mencoba untuk membawa kembali Eurydice ke dunia manusia. Dia bertanya kepada Hades penjanga dunia kematian. Biasanya Hades menolak permintaan orang-orang untuk mengembalikan yang mati, namun karena musik yang dimainkan Orpheus sangat indah, lalu dia akhirnya memutuskan untuk memberikan Eurydice kembali kepada Orpheus

Namun, Hades memberikan satu klausul: Orpheus nggak bolah melihat ke belakang untuk melihat apakah Eurydice mengikutinya.

singkatnya.....Orpheus berjalan kembali untuk kembali ke dunia manusia, dengna Eurydice berjalan mengikutinya. Namun, ketika hampir sampai ke dunia manusia Oprheus membuat kesalahan fatal.....dia menengok ke belakang untuk melihat Eurydice. Dia mencoba menahan perginya Eurydice, namun dia tak bisa. Kata terakhir yang didengarnya adalah,"Selamat tinggal". Eurydice lalu hilang begitu saja.

Orpheus lalu mencoba masuk ke Hades lagi, namun kali ini dia ditolak mentah-mentah.

Alhasil, dengan patah hatinya, dia kembali ke dunia manusia.
Dia memainkan musiknya sendirian, hanya ditemani oleh angin, pohon, sungai.......

Dunia seakan kiamat bagi Orpheus. Hari-hari dan mimpi malamnya dihantui oleh bayangan Eurydice yang seolah mengajaknya melanjutkan nyanyian dan tarian yang tak sempat terselesaikan di lembah tersebut.
Akhirnya timbul tekad yang sungguh berani dalam diri Orpheus. Dia memutuskan pergi ke Hades, kerajaan orang-orang mati, untuk menjemput kembali jiwa Eurydice.
Orpheus memang bukan pahlawan seperti Hercules yang sanggup menyelesaikan dua belas tugas raksasa. Bukan pula Theseus yang membunuh Minotaur, makhluk setengah manusia setengah banteng yang memangsa rakyatnya. Dia juga bukan Jason yang memimpin para pahlawan mengambil bulu domba emas di Colchis. Namun cintanya yang besar pada Eurydice dan derita berat yang harus ditanggung karena kehilangan dirinya telah memberi Orpheus keberanian dan kekuatan seluruh pahlawan.
Banyak orang berusaha membujuk agar dia mengurungkan niatnya.
"Jangan pergi Orpheus! Ingatlah kekerasan hati Pluto penguasa Hades dan Hakim-hakim di Hades yang keputusannya tak terubahkan!"
"Memang menyakitkan kehilangan orang yang kita kasihi. Tetapi waktu jualah yang akan menyembuhkan luka di hatimu."
Namun Orpheus tetap tak bergeming dari niatnya. Keputusannya sudah bulat. Dia pergi meninggalkan kerajaannya untuk menuju ke Hades.
Baru saja kakinya melangkah masuk ke dalam kegelapan gua di kaki Gunung Avernus yang berhubungan dengan Hades ketika seseorang menepuk pundaknya.
Ternyata orang tersebut adalah mercury duta dewata yang bertugas mengantar jiwa-jiwa menuju ke Hades. Seperti yang lain,mercury juga membujuk Orpheus membatalkan niatnya.
"Kukagumi keberanianmu mencoba melakukan hal yang bahkan membuat pahlawan seperkasa Hercules pun berpikir dua kali sebelum bertindak, Orpheus. Namun tidakkah kau tahu bahwa kau mencoba meraih yang tak teraih, mengharapkan sesuatu yang mustahil? Tidak tahukah kau bahwa Pluto penguasa Hades buta terhadap penderitaan manusia dan tuli terhadap isak tangis mereka? Hanya kekecewaanlah yang akan menantikan di penghujung perjalananmu Orpheus, karena itu urungkanlah niatmu! Mari kuantar kau kembali ke atas sana."
Tetapi keteguhan hati Orpheus tak tergoyahkan.
"Antarkan aku menghadap Pluto Penguasa Hades!" adalah jawaban Orpheus kepada Mercury. Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Mercury berdiam diri sejenak sebelum kemudian maju memimpin langkah-langkah Orpheus menuju Hades.
Akhirnya setelah berjam-jam menembus kesenyapan dan kegelapan di sekeliling mereka, tibalah mereka di tepian Sungai Styx, sungai suci yang harus diseberangi para jiwa agar sampai di Hades. Terdengar bunyi gemercik air yang jatuh di atas bebatuan.
Dari jauh tampak sosok kurus Charon, dewa yang bertugas menyeberangkan jiwa-jiwa, menepikan perahunya. Mulanya dia menolak menyeberangkan Orpheus karena Orpheus adalah makhluk hidup yang tidak boleh masuk ke dalam kegelapan Hades.
"Tidak tahukah bahwa aku hanya membawa jiwa-jiwa saja menyeberangi sungai ini dengan perahuku? Kau makhluk fana yang berdaging dan berdarah pulanglah! Tunggulah giliranmu mati untuk kuseberangkan ke sana!"
Orpheus hanya terdiam, kemudian disapukannya jari-jarinya pada dawai-dawai liranya.
Ting-a ling-a-ling! Suara yang demikian jernih bergema di kesunyian Hades.
Mata Charon terbelalak takjub mendengarkan nada-nada mempesona yang belum pernah didengarnya sebelumnya.
"Suara apa ini?" tanyanya.
Orpheus melangkahkan kakinya dengan mantap menaiki perahu sambil terus memainkan liranya diikuti oleh mercury
Charon terus mendengarkan nada-nada indah yang mempesonakan dirinya, sehingga kemudian tanpa disadarinya direngkuhnya dayung. Dan perahu tersebut meluncur di atas permukaan sungai suci yang tenang tersebut sampai ke seberang, di depan gerbang Hades.
Hal yang sama terjadi pada Cerberus. Anjing penjaga gerbang Hades, yang termashyur karena kegarangannya terhadap makhluk yang mencoba memasuki atau jiwa-jiwa yang berusaha keluar dari Hades, tersebut demikian terbuai oleh musik Orpheus sehingga mengizinkannya lewat...

to be continued,,,
separador

0 komentar:

Posting Komentar

Followers